Selamat Datang di Web Resmi Pemerintah Desa Kajar Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang  

Sejarah Desa

Maskat | 17 Agustus 2020 17:45:20 | 6.095 Kali

Desa Kajar terletak di lereng gunung Kajar, salah satu bagian dari gunung lasem.  Dari kota tua Lasem atau Jl.  Pantura Lasem, Desa dengan sumber airnya itu berjarak kira-kira 4 km ke arah timur.

Desa Kajar mempunyai 4 peninggali Kerajaan Majapahit.  Peninggalan itu berupa Batu Tapak Raja Majapahit (Hayam Wuruk) yang dikenal masyarakat desa sebagai Watu Tapak, Goa Tinatah, Batu Kursi Kajar dan Lingga Kajar (Prasasti) yang semuanya tersebar di sejumlah titik gunung Kajar.

Kisah dibalik peninggalan-peninggalan itu tidak terlepas dari sejarah Kerajaan Lasem pada masa Kerajaan Majapahit.  Berdasarkan laporan “Rekonstruksi” sejarah Kadipaten Lasem muncul setelahTribuwana Wijaya Tungga Dewi membentuk Dewan Pertimbangan Agung atau disebut Bathara Sapta Prabu pada 1351.

Salah satu Dewan Pertimbangan Agung adalah Dyah Duhitendu Dewi, adik kandung dari Hayam Wuruk.  Setelah menikah dengan salah satu Dewan Pertimbangan Agung yang lain (Rajasa Wardana), Dewi Indu tinggal dan menjadi penguasa di Lasem dengan gelar Putri Indu Dewi Purnamawulan yang kemudian dikenal dengan nama Bhre Lasem.

Sejarawan Lasem ‘Slamet Wijaya’ mengatakan Lasem khususnya Desa Kajar salah satu daerah terpenting dari Kerajaan Majapahit.  Desa Kajar merupakan memberikan pengetahuan kepada para Pejabat, Panglima, Prajurit Kerajaan Majapahit.

Kajar merupakan kependekan dari kata “ Ka” yang berarti kaweruh (pengetahuan) dan “Jar” yang berarti ajaran.

Bukan hal yang mengherankan jika pada 1354 Hayam Wuruk berkunjung ke Lasem dan Desa Kaja.  Untuk mengenang kunjungan itu sekaligus sebagai prasasti tanda kekuasan daerah Majapahit, Bhre Lasem membuat ukir an telapak kaki Hayam Wuruk di sebuah batu andesit di lereng gunung Kajar.  Hingga kini warga menyebut dengan Watu Tapak.

Peninggalan-peninggalan lain yaitu dua Goa Tinatah, Goa Tinatah pertama difungsikan sebagai tempat menyepi pejabat, panglima Majapahit, Goa ini hanya memuat satu orang saja.  Goa Tinatah kedua difungsikan untuk prajurit yang dibawa pejabat/panglima untuk berjaga-jaga, goa ini memuat 15 orang.

Setelah menyepi untuk beberapa waktu di Goa Tinatah pejabat/panglima Majapahit itu disucikan dengan air Kajar dengan duduk di sebongkah batu yang mirip kursi.  Warga kerap menyebut sebagai “Batu Kursi” (Watu Kursi)

Selain itu untuk menghargai untuk menghargai desa Kajar sebagai tempat yang membawa kesuburan desa lain karena banyak sumber airnya, Bhre Lasem membuat Lingga berhuruf palawa.  Didekat lingga tersebut pada jaman batu terdapat mata air yang lebih dikenal dengan sebutan “Pancuran mbah Ponyo”.  Karena perkembangan jaman dan pengaruh tangan-tangan manusia pancuran tersebut akhirnya menjadi sendang.  Oleh salah satu sesepuh desa Kajar ‘Abdullah Sunarto” sendang tersebut diberi nama “Sendang Arum

Pemimpin Pemerintahan Desa Kajar

No

Nama

Tahun Menjabat

Keterangan

1

SABIT

Tidak diketahui

Kepala Desa Kajar Pertama

2

MULYO KARJAN

Tidak diketahui

Kepala Desa Kajar Kedua

3

WINARSO

1982 s/d 1990

Kepala Desa Kajar Ketiga

4

WINARSO

1990 s/d 1998

Kepala Desa Kajar Keempat

5

SUNARTO

1998 s/d 2007

Kepala Desa Kajar Kelima

6

KASWADI

2007 s/d 2013

Kepala Desa Kajar Keenam

7

WIDAYAT

2013 s/d sekarang

Kepala Desa Kajar Ketujuh

Demikian selanyang pandang atau sejarah singkat Desa Kajar yang dapat kami sampaikan kepada para pegiat Medsos, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua, terima kasih.

 

 

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun)

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)

Nama
No. HP
Alamat e-mail
Komentar
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 

Peta Desa

Aparatur Desa

Layanan Mandiri


Silakan datang atau hubungi operator desa untuk mendapatkan kode PIN anda.

Masukan NIK dan PIN

Sinergi Program

Agenda

Belum ada agenda

Komentar Terkini

Info Media Sosial

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung